Zaman sekarang mencari pekerjaan sangatlah sulit jika tidak di barengi dengan kemampuan yang mumpuni di bidangnya. Terlebih perkembangan teknologi yang semakin cepat, jika tak diimbangi dengan baik maka akan tertinggal.
Kondisi tersebut membuat para orang tua merasa khawatir dengan masa depan anak-anak mereka. Namun jika di bekali dengejak dini, di masa yang akan datang mereka mampu beradaptasi dengan perubahan zaman ketika dewasa nanti.
Persaingan yang ketat menuntut kita bersaing hampir dengan 7 miliar orang, terlebih kecemasan orang tua semakin menjadi ketika anak mereka dewasa nanti, tentunya dengan jumlah saingan menjadi berkali-kali lipat. Para orang tua pun berharap anak-anak mereka tidak merasa tertatih-tatih mengejar perkembangan zaman, termasuk perkembangan teknologi.
Maka dari itu perlu menyiapkan pendidikan anak yang tepat agar bisa bersaing secara global. Sebuah data dari World Economic Forum (WEF) 2017 menyebutkan sekitar sepertiga kebutuhan tenaga ahli akan jauh berbeda pada tahun 2020. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh US National Science Foundation menyebutkan jika beberapa tahun mendatang, terdapat 80% pekerjaan yang menuntut kemampuan berpikir kritis dan problem solving. Temuan data di atas mengharuskan orang tua melek akan teknologi agar bisa mendukung proses belajar anak.
Peranan orang tua tentu sangat penting pada kasus ini, namun orang tua pun tidak bisa jalan sendiri, perlu partner yang tepat dan membantu orang tua mencapai goals tersebut. Dalam hal ini tentu saja terkait dengan pendidikan sekolah. Salah satu yang harus dipertimbangkan bagaimana kurikulum sekolah tersebut. Karena kebutuhan di masa yang akan datang adalah mereka yang memiliki kemampuan kompetensi science, technology, engineeing, art dan math (STEAM).
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim pada pidatonya mengatakan terdapat beberapa hal yang sifatnya wajib (mandatory) di dalam kurikulum pendidikan nasional. Indonesia, kata dia, dengan potensi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara maupun dunia, harus mempersiapkan diri berkompetisi secara global. Salahsatu contoh berkompetisi secara global yaitu dengan menguasai bahasa koding, bahasa koding atau programming menjadi wajib menurut Nadiem karena dunia nyata dikendalikan oleh kode-kode virtual. Bahwa ada "kode-kode tak terlihat" yang menjalankan dunia saat ini sehingga SDM Indonesia harus mampu menguasai bahasa koding dari sekolah. "Dulu kita bangun pakai semen, pakai bata, pakai pondasi, pakai baja. Nah, di dunia digital semua itu dibangun secara virtual. Artinya kita butuh membangun virtual-virtual ini, yaitu coder. Kalau kita tidak bisa menguasai bahasa koding, maka kita tidak akan bisa membangun dunia ini, virtual kita."
Sumber foto: stem.T4L on Unsplash
Mon - Feb 17, 2020
Sebagai orang tua, mom pasti ingin banget tahu bakat anak di bidang apa sih. Sehingga, nantinya…
more >
Wed - Feb 05, 2020
Kamis, 30 Januari 2020, Mr. Robo kedatangan teman-teman dari SMA Jaya Plus Montessori…
more >
Thu - Nov 14, 2019
Liburan adalah hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh semua orang, tak terkecuali anak-anak yang…
more >
Tue - Nov 05, 2019
Selasa, 05 November 2019, telah dilaksanakan kegiatan Roboschool di Robologee Gramedia World…
more >